Pangku: Kisah Getir Seorang Ibu Tunggal
Peringatan, spoiler bertebaran di ulasan ini. *** Hal yang paling menyedihkan dari film ini adalah setiap detail kejadiannya nyata. Seorang ibu tunggal yang menjaja diri di warung kopi; merayu tamu untuk menambah pesanan, meminta dibelikan rokok—yang sebenarnya ditukar dengan uang kepada pemilik warung—, dan seorang anak kecil di bawah umur yang melihat ibunya melayani tamu setiap malam. Dalam sebuah pengalaman empiris aku pernah menemui realita itu. Perempuan menjadi komoditas. Sebagian besar, kalau tidak mau dikatakan semua, perempuan yang memilih menjadikan kemolekan tubuh sebagai alat tukar, melakukannya karena kemiskinan struktural. Reza Rahadian memotretnya dengan ciamik, bagaimana ibu tunggal yang masih muda memperjuangkan ekonomi keluarganya. Sartika bekerja untuk Bayu bisa hidup, dan mendapatkan penghidupan yang layak. Di masa krisis moneter, ketika pabrik-pabrik tutup, seperti pabrik plastik tempat Pak Jaya bekerja yang bangkrut, menjadi buruh tani adalah satu-satunya p...