Posts

Featured Post

Pangku: Kisah Getir Seorang Ibu Tunggal

Peringatan, spoiler bertebaran di ulasan ini.   *** Hal yang paling menyedihkan dari film ini adalah setiap detail kejadiannya nyata. Seorang ibu tunggal yang menjaja diri di warung kopi; merayu tamu untuk menambah pesanan, meminta dibelikan rokok—yang sebenarnya ditukar dengan uang kepada pemilik warung—, dan seorang anak kecil di bawah umur yang melihat ibunya melayani tamu setiap malam. Dalam sebuah pengalaman empiris aku pernah menemui realita itu. Perempuan menjadi komoditas. Sebagian besar, kalau tidak mau dikatakan semua, perempuan yang memilih menjadikan kemolekan tubuh sebagai alat tukar, melakukannya karena kemiskinan struktural. Reza Rahadian memotretnya dengan ciamik, bagaimana ibu tunggal yang masih muda memperjuangkan ekonomi keluarganya. Sartika bekerja untuk Bayu bisa hidup, dan mendapatkan penghidupan yang layak. Di masa krisis moneter, ketika pabrik-pabrik tutup, seperti pabrik plastik tempat Pak Jaya bekerja yang bangkrut, menjadi buruh tani adalah satu-satunya p...

Finding, not searching.

Pertama ditulis 8 Mei 2025 dan selesai 29 Mei 2025. Once you told me, “sepertinya aku bukan orang yang kamu cari selama ini.” Then I realized , sebenarnya apa yang aku cari? Aku sudah lama tidak benar-benar mencari, last time aku mencari selalu berakhir kecewa. Ditinggalkan, dikhianati, dan disepelekan. Itu yang ku temukan dalam pencarian-pencarianku. Lalu aku berhenti mencari. I tried to redefine what I want and what I need. Not only that, but also redefining what I have, to offer. Kita bertemu dalam ketidaksengajaan. And I think, you have all on the list. What I want and what I need . I am sure that there is a reason why “find” and “search” are different word in English . Aku menemukanmu. Seperti kebetulan yang tidak pernah aku percayai, aku yakin ini adalah kesengajaan dari penentu nasib. Master Oogway from Kungfu Panda once said, “There are no coincidences in the universe.” Ini sejalan dengan kata-kata “Tidak ada yang menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi ka...

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Di depan pagar reot tempat pertama kita berswafoto, aku menunggu di atas motor lengkap dengan tas berisi amunisi-amunisi kehidupan yang ku bawa dalam perjalanan panjang antar provinsi. Aku menunggumu. Membawa janji yang ku bungkus kantong plastik double , yang sangat tidak ekologis. Janji yang ku berikan setelah kamu membagi video reels instagram, seperti biasa, kuliner. Itu satu hal. Hal lain adalah kerinduan setelah sangat lama tidak berjumpa. Sekitar empat hari. Bagi pemuda kasmaran, jangankan sebegitu lama, dua jam saja sudah terlalu lama untuk tidak melihat senyum simpul yang bagai candu itu. Malam itu sungguh transaksional, aku dengan janjiku di dalam tas dan kamu dengan eksistensimu. Kamu keluar dan kita bertemu. Perjalanan antar provinsi yang belum memenuhi syarat sah jama’ dan qashar itu tidak menyisa lelah. Badanku sungguh segar dan prima. Aku yakin kala itu tekanan darahku 120/85. Normal. Bersama motor jelek yang katamu knalpotnya macam motor abege kita berjalan menuju temp...

Dewasa dan Menolak Tua

  I really think that this should be documented, so here we are. Beberapa bagian ditulis dalam waktu terpisah. 12 Juni 2024 https://x.com/agri_satrio/status/1481972884600147971?s=19 Aku pernah mengkhawatirkan perkara aneh ini. Surprisingly aku lupa pernah menulis itu. Ku temukan lagi bertahun-tahun setelahnya. Ada kisah menarik dari beberapa waktu di masa depan dari tweet itu.  Akhirnya aku betul resign di Bulan Dua, hari terakhirku 26 Februari 2022. Karena perjalanan pulang makan waktu 1 hari, aku sampai di rumah hari Sabtu, 27 Februari 2022. Tanggal 28 Maret aku bertemu temanku dan mendapatkan pekerjaan di Solo. Akhirnya aku resign tapi tetap bisa memenuhi harapan ibuku. Dengan gaji terakhirku di perusahaan yang ku tinggalkan pun ku pakai untuk bayar hutangnya waktu itu, sekira 1,7 juta. Tiga bulan setelahnya aku mendapatkan apa yang ku harapkan dari resign, lolos beasiswa. Hingga setahun lebih tiga bulan setelahnya, aku mulai kuliah. Di luar prediksiku sebelumnya, aku malah...

Esai Untuk Pernikahan Seorang Kawan dari Madura

Pernahkah kamu punya teman yang mengaku baru tau Harry Potter saat SMA? Ya, saya punya. Ia adalah orang Madura pertama yang saya kenal. Salah satu penulis yang sangat produktif pada masanya, dengan pondasi tulisan yang selalu di luar kotak. Sebelum kenal, saya hanya tau dia adalah kakak tingkat kuliah, alumni Taruna Nusantara yang gondrong, dan Ketua SKM Bulaksumur. Menurut cerita, ia adalah orang yang tidak mau potong rambut saat ospek jurusan. Perkenalan kami dimulai dari ketika kami sekelas Persamaan Diferensial. Bukan, tentu ia tidak mengulang mata kuliah itu. Tetapi memang itu mata kuliah baru di kurikulum baru. Jadi dua angkatan wajib ambil kelas. Seingatku dia dapat nilai A, dan aku D semester itu. Kawan Madura ini memang cerdas akademiknya. Terbukti, dari daerah di mana orang masih berak di pohon bakau dia mampu masuk ke SMA favorit di tanah air. SMA yang mengenalkannya pada Harry Potter, pop culture yang tidak masuk ke daerahnya itu. Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur...

Setelah Mukadimah

Pada hampir tiga tahun yang lalu saya menulis mukadimah di blog ini. Di pertengahan pandemi, sejengkal waktu setelah lulus dan masih menaruh harap pada pengumuman rekrutmen kerja di BUMN pengelola infrastruktur aviasi. Pada akhirnya tidak lolos karena perkara efisiensi perusahaan, yang belakangan saya tahu sebenarnya tidak efisien-efisien amat melihat gendutnya direksi yang tidak terlalu ngapa-ngapain itu. Seingat saya, pengumuman rekrutmen itu kurang dari sebulan setelah mukadimah saya tulis. Setelah tahu tidak lulus, saya disibukkan dengan aktivitas mencari pekerjaan lain yang sekiranya bisa menghapus status saya sebagai pengangguran. Walaupun sebetulnya di waktu antara tersebut saya ada freelance , tapi freelance bukanlah profesi yang dapat dijelaskan kepada masyarakat umum. Selain itu uangnya juga tidak seberapa. Tiga bulan setelahnya saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Tepat setahun kurang tiga hari dari saya sidang skripsi. Pekerjaan ini membawa saya pada sebuah komplek perkant...

Mukadimah

Sejak usia sekitar 13 tahun saya suka membaca dan menulis. Semua dimulai dari kekaguman saya terhadap perpustakaan di SMP saat pertama kali masuk sekolah, yang kebetulan sepelemparan batu dengan ruang kelas saya. Dari perpustakaan itu saya menemukan beberapa buku yang menumbuhkan minat ini. Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi, Raditya Dika dengan Kambing Jantan, dan Lemony Snicket dengan A Series of Unfortunate Event . Yang terakhir baru saya baca sampai series keduabelas dari tiga belas series. Buku-buku itu menyihir imajinasi saya, membawa saya bermimpi jauh, sejauh Sorbonne University . Selanjutnya, karena Kambing Jantan, blog yang dibukukan, saya mulai menulis. Berharap tulisan saya melanglang buana seperti cerita hidup Raditya Dika. Beberapa kawan sekolah dulu membacanya, dan hanya dengan dibaca saja saya sangat bergembira. Namun, setelah sembuh dari masa  alay , blog itu saya private . Agar supaya tidak malu dilihat orang, tetapi masih dapat dikenang. Lalu ...