Dewasa dan Menolak Tua

 I really think that this should be documented, so here we are. Beberapa bagian ditulis dalam waktu terpisah.

12 Juni 2024

https://x.com/agri_satrio/status/1481972884600147971?s=19

Aku pernah mengkhawatirkan perkara aneh ini. Surprisingly aku lupa pernah menulis itu. Ku temukan lagi bertahun-tahun setelahnya.

Ada kisah menarik dari beberapa waktu di masa depan dari tweet itu. 

Akhirnya aku betul resign di Bulan Dua, hari terakhirku 26 Februari 2022. Karena perjalanan pulang makan waktu 1 hari, aku sampai di rumah hari Sabtu, 27 Februari 2022.

Tanggal 28 Maret aku bertemu temanku dan mendapatkan pekerjaan di Solo. Akhirnya aku resign tapi tetap bisa memenuhi harapan ibuku. Dengan gaji terakhirku di perusahaan yang ku tinggalkan pun ku pakai untuk bayar hutangnya waktu itu, sekira 1,7 juta.

Tiga bulan setelahnya aku mendapatkan apa yang ku harapkan dari resign, lolos beasiswa. Hingga setahun lebih tiga bulan setelahnya, aku mulai kuliah.

Di luar prediksiku sebelumnya, aku malah bisa mendaftarkannya antrean haji.

8 Desember 2024

Besok, tepat tujuh tahun sejak menyandang gelar yatim. Yatim senior. Perkara peryatiman ini sering menggangguku. Sebagai orang dewasa baru saat ditinggal Papa, banyak pertanyaan yang tidak tahu kepada siapa harus ditanyakan. 

Sebenarnya, sebelum beliau meninggal pun tidak banyak aku bertanya tentang bagaimana hidup harus dijalani. Tetapi waktu itu aku berumur pra dua puluh, sok tahu. Merasa dapat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di dunia ini sendiri secara otodidak. Merasa pergaulan yang luas dengan spektrum yang beragam akan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan. Tapi ternyata, itu melelahkan. Lebih mudah dipandu oleh orang yang, dalam hidupnya, pasti mempedulikanku dan pilihan hidup yang ku ambil. Sedikit menyesal mengapa terlambat aku sadari.

Untuk beberapa hal, aku masih mendapatkannya dari Mama. Namun, aku merasa ada hal-hal yang hanya Papa yang bisa memberi jawaban. Terutama bagaimana menjadi laki-laki dewasa dan segala decision making di dalamnya. Terkhusus mengenai keprofesian, karena kami berlatar belakang pendidikan yang sama. Belum ku temukan, orang yang ku percaya untuk menjawab perkara moral di bidang profesi ini. YTTA.

Tadi pukul 16.03 teman berkata, "... kadang kalo kita mencari engga melulu jalan hidup itu ditunjukkan oleh orangtua biologis kita..." Aku juga berpikir soal ini. Beberapa kali aku mendapat wejangan atas pertanyaan-pertanyaanku dari orang (lebih) tua non biologis; paman dan orang tua teman. Ketika mendapat wejangan itu aku, selain menyimak, merindukan perkataan semacam ini dari Papa.

Sebelum meninggal, Papa sakit kronis, kurang lebih sembilan tahun rawat jalan dan beberapa kali rawat inap. Masih berkesan beberapa wejangan darinya hingga sekarang. Sering kali wejangan itu bukan berasal dari aku bertanya, kini aku membayangkan betapa akan terbantunya jika itu bisa ku dapatkan setelah hidup yang sangat kompleks ini memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh Google maupun Chat GPT.

Ku berharap, seperti ketika untuk pertama dan satu-satunya aku membawa perempuan ke rumah, Papa bisa memberitahuku; bagaimana ia bisa menentukan kenapa ia tidak memilih perempuan-perempuan yang ia temui sebelum bersama mama, di usianya yang 34 waktu itu?

Ku berharap, seperti ketika ia bilang bahwa aku mewarisi buku-buku di raknya, Papa bisa memberitahuku; apa pendapatnya jika di proyek konstruksi vendor memberikan tanda terima kasih (gratifikasi)? bagaimana berkomunikasi dengan pekerja yang lebih tua dari kita tanpa mendapat tatapan nyinyir karena terlalu muda? apakah menjadi akademisi sebagai lulusan teknik sipil adalah pilihan yang baik?

Ku berharap, seperti ketika ia berkata bahwa "jangan menjadi seperti orang kebanyakan", Papa bisa memberitahuku sekarang; apa maksud dari kalimat itu?

Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang ku harap Papa bisa menjawabnya.

19 Februari

Tiga hari lalu aku ulang tahun. 28 tahun. Umur yang sangat banyak, menurutku. Sebentar lagi aku kepala tiga. Di usia ini dulu Papa lulus sarjana, insinyur. Aku mendahuluinya, aku sarjana di kampus yang tidak menerimanya, di usia 23. Oh iya, tepat hari ini 5 tahun lalu aku wisuda. Bulan lalu, aku tersertifikasi insinyur. Aku menang, Pa.

Beberapa tahun lalu, aku ingat seorang kawan pernah berkata bahwa di hidup ini kita punya dead-list. Bukan untuk dibunuh, tapi untuk dikalahkan. Dan menurutnya, list teratas seorang laki-laki adalah bapaknya. Sampai poin ini, aku banyak sudah melakukannya. Walaupun Papa sudah tidak hadir untuk turut merayakannya.

Teman yang berkata pukul 16.03 pada 8 Desember lalu kini bukan sekadar teman. Aku tidak tau bagaimana respon Papa jika ia masih ada. Seperti apa yang ingin ku tanya kepada Papa pada teks yang sama, aku berharap mendapatkan jawabannya. Karena sepertinya selain di usia ini aku akan magister, gelar yang ia punya di usia 44, tinggal 2 hal yang perlu aku kalahkan. Usia menikah dan melihat anak sarjana, hal yang belum ia saksikan hingga akhir hayatnya.

Comments

Popular posts from this blog

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Finding, not searching.