Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam
Di depan pagar reot tempat pertama kita berswafoto, aku menunggu di atas motor lengkap dengan tas berisi amunisi-amunisi kehidupan yang ku bawa dalam perjalanan panjang antar provinsi. Aku menunggumu. Membawa janji yang ku bungkus kantong plastik double, yang sangat tidak ekologis. Janji yang ku berikan setelah kamu membagi video reels instagram, seperti biasa, kuliner.
Itu satu hal. Hal lain adalah kerinduan setelah sangat lama tidak berjumpa. Sekitar empat hari. Bagi pemuda kasmaran, jangankan sebegitu lama, dua jam saja sudah terlalu lama untuk tidak melihat senyum simpul yang bagai candu itu. Malam itu sungguh transaksional, aku dengan janjiku di dalam tas dan kamu dengan eksistensimu.
Kamu keluar dan kita bertemu. Perjalanan antar provinsi yang belum memenuhi syarat sah jama’ dan qashar itu tidak menyisa lelah. Badanku sungguh segar dan prima. Aku yakin kala itu tekanan darahku 120/85. Normal.
Bersama motor jelek yang katamu knalpotnya macam motor abege kita berjalan menuju tempat tujuan kita. Tempat yang bahkan belum kita putuskan sampai beberapa ratus meter setelah aku memacu kendaraan. Yang mana pada akhirnya adalah sebuah warmindo di tempat yang tak terlalu jauh untuk kita kunjungi dan tak terlalu dekat untuk jalan kaki. Di sana kita membuka janjiku, seporsi sate kambing Pak Manto dan dua tusuk sate buntel. Kita memakannya di warmindo itu, dengan membeli nasi di sana sebagai pelengkap makan berat khas Indonesia.
Kamu makan janjiku, seporsi sate kambing dan setusuk sate buntel. Aku makan nasi telur dan satu sate buntel yang lain, karena beberapa waktu sebelumnya tekanan darahku tidak mengizinkan makan sate kambing seporsi. Setting pentas kehidupan malam itu sangat penuh dengan estetika. Makanan khas Solo yang rasanya otentik itu dimakan di warmindo yang pekerjanya mas-mas dari Kuningan. Ku rasa, sate buntel malam itu terenak yang pernah ku makan. Kebahagiaan pun memuncak ketika akhirnya selera kita, Solo dan Lamongan, bertemu di olahan kambing. Setelah kita bersebrangan dalam soto.
Pentas malam itu semakin ciamik dengan sentuhan akrobat lighting dari PLN. Listrik mati sesaat, senyummu di tengah sorot flashlight ponsel membuat porsi makan malam ini cukup istimewa. Sebelum malam itu, ada banyak sate kambing yang enak. Tapi sejak saat itu, ku pastikan tidak ada sate kambing yang lebih istimewa.
Aku tidak mau mengulang malam itu, bukan karena aku tidak bahagia. Bahkan aku sangat bahagia. Tetapi arena malam itu adalah passing grade kebahagiaan. Malam-malam di masa depan harus lebih bahagia, walaupun dalam bentuk kesedihan sekalipun.
Comments
Post a Comment