Setelah Mukadimah

Pada hampir tiga tahun yang lalu saya menulis mukadimah di blog ini. Di pertengahan pandemi, sejengkal waktu setelah lulus dan masih menaruh harap pada pengumuman rekrutmen kerja di BUMN pengelola infrastruktur aviasi. Pada akhirnya tidak lolos karena perkara efisiensi perusahaan, yang belakangan saya tahu sebenarnya tidak efisien-efisien amat melihat gendutnya direksi yang tidak terlalu ngapa-ngapain itu.

Seingat saya, pengumuman rekrutmen itu kurang dari sebulan setelah mukadimah saya tulis. Setelah tahu tidak lulus, saya disibukkan dengan aktivitas mencari pekerjaan lain yang sekiranya bisa menghapus status saya sebagai pengangguran. Walaupun sebetulnya di waktu antara tersebut saya ada freelance, tapi freelance bukanlah profesi yang dapat dijelaskan kepada masyarakat umum. Selain itu uangnya juga tidak seberapa.

Tiga bulan setelahnya saya akhirnya mendapatkan pekerjaan. Tepat setahun kurang tiga hari dari saya sidang skripsi. Pekerjaan ini membawa saya pada sebuah komplek perkantoran di Kelapa Gading selama empat hari, sebelum akhirnya berangkat ke sebuah pulau di Maluku yang bernama Seram, sebelah utara Pulau Ambon. Beberapa waktu sebelum berangkat saya sebenarnya sedang mengerjakan project juga, dalam perancangan Perda di suatu provinsi yang UMR-nya terendah kedua di Indonesia (saat tulisan ini tayang). Bahkan remote work saya lakukan pada saat penyusunan laporan akhir dan persiapan paparan dari daerah berzona GMT + 9 sana.

Di antara waktu tersebut, belum ada hal yang saya tuliskan di sini. Karena tentu saja cerita paling membosankan akan keluar dari papan tik saya, cerita tentang seorang pengangguran berusia 23 tahun yang mengirimkan lamaran ke sana kemari tetapi ditolak. Belakangan diperkirakan karena file dokumennya tidak di-merge dalam satu pdf.

Ketika sudah langgar laut di rantau sana, banyak cerita yang bisa ditulis sebenarnya. Namun waktu dan tenaga yang tidak ada. Akhirnya, tentu saja kembali hanya wacana. Bertahun setelahnya, beberapa waktu yang lalu, aku mengingat keberadaan kanal ini. Ku baca Mukadimah, tulisan sebelum tulisan ini, dan merasa getir. Mengingat berapa kali kekecewaan, kegagalan, dan tangisan yang sudah terjadi setelah Mukadimah ku tulis. Ku putuskan menulis lagi, apalagi awal tahun ini ku mulai dengan patah hati. Tentu akan menjadi arang yang mampu membakar semangat menulisku. 

Maaf, kalimat terakhir di atas cukup menggelikan. Mengingat daripada arang, aku merasa mungkin bisa jadi hanya akan menjadi blarak. Blarak dalam peribahasa jawa, obor-obor blarak. Nyala apinya sangat sebentar. Tapi tidak apa-apa.

Akhirnya, mari kita lihat apa yang akan ada di blog ini. Aku bertaruh, minimal akan ada lima tulisan baru hingga akhir bulan. Selamat membaca, aku hanya bercerita!

Comments

Popular posts from this blog

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Finding, not searching.

Dewasa dan Menolak Tua