Esai Untuk Pernikahan Seorang Kawan dari Madura

Pernahkah kamu punya teman yang mengaku baru tau Harry Potter saat SMA? Ya, saya punya. Ia adalah orang Madura pertama yang saya kenal. Salah satu penulis yang sangat produktif pada masanya, dengan pondasi tulisan yang selalu di luar kotak.

Sebelum kenal, saya hanya tau dia adalah kakak tingkat kuliah, alumni Taruna Nusantara yang gondrong, dan Ketua SKM Bulaksumur. Menurut cerita, ia adalah orang yang tidak mau potong rambut saat ospek jurusan. Perkenalan kami dimulai dari ketika kami sekelas Persamaan Diferensial. Bukan, tentu ia tidak mengulang mata kuliah itu. Tetapi memang itu mata kuliah baru di kurikulum baru. Jadi dua angkatan wajib ambil kelas. Seingatku dia dapat nilai A, dan aku D semester itu.

Kawan Madura ini memang cerdas akademiknya. Terbukti, dari daerah di mana orang masih berak di pohon bakau dia mampu masuk ke SMA favorit di tanah air. SMA yang mengenalkannya pada Harry Potter, pop culture yang tidak masuk ke daerahnya itu. Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Perkenalan kami semakin akrab ketika pada suatu hari aku kirim pesan melalui LINE, aplikasi massanger populer kala itu, untuk bergabung dengan Pijak. Komunitas media alternatifnya. Sejak lama aku suka menulis, tapi aku pemalas. Pemantik keinginanku bergabung tentu ingin menghisap tingkat rajinnya dalam menulis yang mengesankanku. Entah fiksi maupun non fiksi.

Pertama kali saya terkesan adalah ketika ia turut meramaikan dialektika kehidupan kampus. Kala itu ia membalas tulisan Alfath Bagus Panuntun, ketua BEM KM kala itu yang mengkritik opini seseorang yang dimuat Bulaksumur melalui media Balairung. Meskipun tentu saja tulisan itu adalah pembelaannya atas media yang ia nahkodai, tapi sangat jarang senior jurusan turut meramaikan dialektika kampus saat itu.

Kesan selanjutnya adalah konsistensi dalam menulis, bahkan sampai sekarang, ketika ia sudah menjadi PNS DKI yang tunjangannya bikin sejahtera. Tulisan-tulisannya pun sangat memancing perdebatan. Tapi saya tau, orang ini pasti memang sengaja. Karena jika perdebatan terjadi, tentu berarti tulisan tersebut dibaca.

Sebentar lagi Dandy menikah dengan pacarnya, Dinda alias Flo. Seorang perempuan yang saya kenal feminis yang juga anak Bulaksumur. Seingat saya, mereka berpacaran sebelum saya akrab dengan Dandy. Sehingga masih menjadi penasaran bagi saya, bagaimana anak Madura ini PDKT dulu.

Turut berbahagia saya atas pernikahan dua manusia ini.

Tidak kah menarik cerita hidup kawan saya ini? Berasal dari Provinsi Jawa Timur coret yang lebih layak dapat zona waktu WITA. Lalu melanjutkan sekolah di almamater yang sama dengan anaknya SBY yang pensiun mayor, hingga akhirnya jadi PNS di ibukota alih-alih membuka warung 24 jam seperti stereotype orang dari kampung halamannya. Dan terakhir, pada saat ini, menikah dengan orang Jogja. Mungkin kalau diskenariokan, kisah hidupnya akan bergenre drama komedi yang inspirasional. Macam Laskar Pelangi, entah dia akan menjadi Lintang, Ikal, Mahar, tapi pastinya bukan Harun.


Comments

Popular posts from this blog

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Finding, not searching.

Dewasa dan Menolak Tua