Mukadimah

Sejak usia sekitar 13 tahun saya suka membaca dan menulis. Semua dimulai dari kekaguman saya terhadap perpustakaan di SMP saat pertama kali masuk sekolah, yang kebetulan sepelemparan batu dengan ruang kelas saya. Dari perpustakaan itu saya menemukan beberapa buku yang menumbuhkan minat ini. Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi, Raditya Dika dengan Kambing Jantan, dan Lemony Snicket dengan A Series of Unfortunate Event. Yang terakhir baru saya baca sampai series keduabelas dari tiga belas series.

Buku-buku itu menyihir imajinasi saya, membawa saya bermimpi jauh, sejauh Sorbonne University. Selanjutnya, karena Kambing Jantan, blog yang dibukukan, saya mulai menulis. Berharap tulisan saya melanglang buana seperti cerita hidup Raditya Dika. Beberapa kawan sekolah dulu membacanya, dan hanya dengan dibaca saja saya sangat bergembira. Namun, setelah sembuh dari masa alay, blog itu saya private. Agar supaya tidak malu dilihat orang, tetapi masih dapat dikenang.

Lalu saya membuat blog baru dengan format yang agak-lebih-tidak-alay, setidaknya menurut saya waktu itu. Hingga akhirnya saya pun masuk SMA. Di SMA aku mulai jarang membaca buku. Pertama, karena perpustakaan SMA tidak semegah perpustakaan SMP. Megah yang saya maksud di sini adalah selalu ada buku baru yang menarik, suasana syahdu, dan pembagian buku berdasarkan katalog sangat bagus. Kedua, saya sibuk pacaran. Intensitas menulis pun berkurang. Dibanding cerita sehari-hari, saya juga mulai suka dengan puisi dan tulisan esai. Bahkan, secara iseng, sampai mengikuti kegiatan sebuah komunitas sastra dan menjadi kontributor di salah satu antologi puisi pelajar.

Waktu itu, dapat menggunakan domain .com adalah impian saya. Selain saya hanyalah seorang pelajar dengan uang saku pas-pasan, dulu metode pembayaran digital masih sangat asing. Hingga akhirnya pada tahun 2014, seorang teman memberi informasi tentang hosting dan domain gratis. agrisatrio.hol.es, tampak keren walaupun belum .com. Dengan CMS Wordpress, saya migrasi konten dan penulisan di blog baru itu. Namun sayang, karena memang gratis, tiba-tiba hosting itu hilang beserta seluruh kontennya. Konten yang tersisa hanya yang sudah tayang di blog sebelumnya yang sudah saya private semenjak blog baru mulai tayang. Saya kesal, dan tidak menulis lagi.

Long story short, akhirnya saya kuliah. Di kampus saya sempat mendaftar salah satu pers mahasiswa, karena merasa jago desain dan multimedia serta ingin menyalurkan hobi menulis yang kandas sebelumnya. Namun tidak lolos. Keisengan membawa saya mendaftar anggota organisasi mahasiswa di tingkat universitas. Di luar ekspektasi, dari organisasi itu saya terpapar wawasan yang cukup banyak bahkan dari orang yang tidak saya kenal. Yang selanjutnya memantik minat saya untuk membaca dan menulis lagi. Akhirnya saya mulai membaca buku-buku, menguping di kanal-kanal, dan berdiskusi dengan kawan tentang pemikiran-pemikiran progresif.

Saya mulai menulis lagi, di blog yang lama, namun secara private alias hanya untuk diari saja, tidak terbuka untuk umum. Selanjutnya dengan skill yang masih sampah, pun sampai sekarang, dan tingkat percaya diri tinggi, saya mencoba mengirim esai di media daring kesukaan masyarakat urban terpelajar. Tentu saja tidak tembus. Sementara itu, kawan sekaligus kakak tingkat saya sudah membuat media, yang mengulas topik terkait jurusan saya, teknik sipil. Melihat kolektif ini, saya tertarik ikut. Tujuan saya waktu itu hanya agar tulisan saya sudah pasti termuat dan jangkauannya meluas. Setidaknya, di luar lingkaran saya, di lingkaran kawan saya yang tergabung di kolektif ini juga. Media ini bernama Pijak.

Setelah itu, semua tulisan saya hanya terpublikasi di sana. Beberapa kali juga saya masih mencoba mengirim naskah, terkait isu-isu sosial maupun yang sedang trending, yang akhirnya ditolak juga. Tapi saya sadar, memang tulisan saya masih jelek dan saya tidak mau belajar dengan keras. Untungnya pada akhirnya Pijak berubah halauan, kini tulisannya lebih beragam. Alias topik ketekniksipilan terlalu susah untuk di-eksplore.

Suatu waktu di tahun 2018, secara random, saya melihat di instagram tentang pendaftaran Sekolah Menulis Kreatif yang diadakan oleh Santri Gusdur (Komunitas Gusdurian Jogja). Tentu ilmu yang saya dapat di sana banyak. Tetapi jauh daripada itu, saya bisa mengenal orang-orang yang tulisannya sudah melanglang buana di berbagai media. Bahkan di antaranya ada yang seusia saya. Itu membuat saya ingin tulisan saya lebih baik. Sayangnya, saya terlalu malas kalau harus belajar dengan cara yang orang-orang biasa lakukan. Untuk mencapai tujuan itu yang saya lakukan hanya menulis lebih banyak tulisan sampah yang lain.

Hingga pada akhirnya kini saya sadar atas diri saya. Saya menulis hanya untuk menulis. Walau kadang juga ingin dibaca, tapi lebih sering hanya ingin menulis saja. Tidak dibaca pun saya tidak peduli.

Untuk mewadahi hasrat ingin menulis itu akhirnya saya membuat blog ini. Kenapa tidak di Pijak saja? Karena apa yang akan saya tulis di sini akan lebih banyak berkaitan dengan apa yang saya suka. Sekaligus tempat mengasah skill menulis sampah agar menjadi sampah yang tidak terlalu bau. Dan mungkin juga sebagai dokumentasi juga atas apa yang terpublikasi di Pijak atau tempat lain. Mau apapun nanti kita lihat saja nanti. Rencananya blog ini juga akan saya belikan domain. Sebagai bentuk balas dendam dulu tidak mampu beli dan motivasi agar bisa konsisten.

Pada akhirnya, bagi saya menulis sama dengan menodai garis waktu. Tanpa tulisan eksistensi di dunia tidak akan cukup signifikan. Bagaikan debu di semesta. Terima kasih dan selamat membaca.

Comments

Popular posts from this blog

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Finding, not searching.

Dewasa dan Menolak Tua