Pangku: Kisah Getir Seorang Ibu Tunggal
Peringatan, spoiler bertebaran di ulasan ini.
***
Hal yang paling menyedihkan dari film ini adalah setiap detail kejadiannya nyata.
Seorang ibu tunggal yang menjaja diri di warung kopi; merayu tamu untuk menambah pesanan, meminta dibelikan rokok—yang sebenarnya ditukar dengan uang kepada pemilik warung—, dan seorang anak kecil di bawah umur yang melihat ibunya melayani tamu setiap malam.
Dalam sebuah pengalaman empiris aku pernah menemui realita itu. Perempuan menjadi komoditas. Sebagian besar, kalau tidak mau dikatakan semua, perempuan yang memilih menjadikan kemolekan tubuh sebagai alat tukar, melakukannya karena kemiskinan struktural.
Reza Rahadian memotretnya dengan ciamik, bagaimana ibu tunggal yang masih muda memperjuangkan ekonomi keluarganya. Sartika bekerja untuk Bayu bisa hidup, dan mendapatkan penghidupan yang layak. Di masa krisis moneter, ketika pabrik-pabrik tutup, seperti pabrik plastik tempat Pak Jaya bekerja yang bangkrut, menjadi buruh tani adalah satu-satunya pilihan halal yang dapat diambil untuk mencari nafkah bagi seorang perempuan rantau tanpa dokumen resmi negara.
Berat. Tentu itu rasa yang harus ditanggung secara fisik oleh perempuan yang masih harus menanggung asi anak bayinya. Sehingga air tajin dipilih sebagai simbol semiotik dari betapa melaratnya kondisi ibu dari Bayu Kesuma ini. Memilih menjadi pramuria adalah alasan yang masuk akal baginya, untuk bisa memastikan anak mendapat asi yang cukup sebagai kebutuhan nutrisinya.
Hadi datang bagai mesias, yang menawarkan kehidupan layak pada Sartika: ikan sebagai makan bergizi, piknik di pantai, menjadi ayah bagi Bayu, mewujudkan cita-cita berjualan mie ayam, dll. Dengan tanpa adanya cela, pada mulanya. Hingga Reza tunjukkan pada penonton bagaimana Hadi memilih membuat dokumen pernikahan dan akta palsu, alih-alih menikahi Tika secara negara. Selebihnya, Fedi Nuril kembali ke habitusnya.
Cukup sulit bagi saya untuk menceritakan sinema ini tanpa menjabarkan detail-detail di atas. Karena ketika melihatnya di layar bioskop, semua realita yang disajikan tampak riil. Salah satu kehebatan detail yang saya tangkap adalah harga rokok, tujuh ribu, di tahun 2004. Ingatan saya langsung terlempar ke masa 20-22 tahun yang lalu ketika ayah saya menyuruh saya membeli rokok di warung kala itu. Harganya sama, tujuh ribu.
Namun tidak mungkin karya tanpa cela. Pekerjaan rumah terbesar pada film ini adalah pelafalan dialek dari aktor-aktornya yang sangat tidak natural. Saya rasa, akan lebih baik jika tidak memakai dialek sama sekali dibanding memakai dialek tapi tidak sesuai dengan di dunia nyata.
Terakhir, terima kasih Reza Rahadian karena telah membawa realita ini ke permukaan.
Sukoharjo, 23 November 2025. Pertama dipublikasikan di letterboxd.com/asan_sin
Comments
Post a Comment