Menemukan Makna Perjuangan dalam Sirkus Pohon

Source: mizanstore.com
Judul: Sirkus Pohon
Pengarang: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka 
Tahun Terbit: Agustus 2017
Halaman: xiv + 410
Bahasa: Indonesia

“Cinta akan selalu memihak mereka yang menunggu.” – Sirkus Pohon, Andrea Hirata

Sirkus Pohon adalah novel Andrea Hirata ketujuh yang saya baca, hanya dwilogi Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas yang belum. Secara umum Andrea menunjukkan kualitasnya dalam menulis novel seperti pada karya-karya sebelumnya.

Novel ini bercerita tentang perjuangan dalam menggapai seuatu yang dicintai. Cinta Tegar dalam mencari Layang-Layang, cinta pertamanya sepuluh tahun yang lalu. Cinta Tara kepada anak laki-laki yang membelanya di pengadilan agama saat dia masih kecil. Juga cinta Sobri kepada Adinda, cinta pertamanya setelah tiga puluh tahun hidup. Serta kecintaan ketiganya terhadap Sirkus Keliling Blasia.

Seperti ciri khas Andrea pada beberapa novel sebelumnya, ia menceritakan kisahnya dalam bentuk mozaik-mozaik yang terpisah antara bab yang satu dengan yang lain. Namun masih saling berkaitan dengan indah dalam satu benang merah yang dapat dirasakan oleh pembaca. Ia seakan tidak ingin memberi nafas kepada pembacanya dengan kejutan-kejutan di setiap babnya.

Latar yang digunakan sama seperti pada novel-novel sebelumnya, Belitong. Sepertinya Andrea benar-benar memanfaatkan latar belakangnya sebagai orang melayu untuk dapat menghasilkan latar dalam sebuah karya dengan sangat hebat.

Berbeda dengan novel-novel sebelumnya yang sudah saya baca, novel ini menyuguhkan sebuah akhir yang plot twist. Sebuah akhir yang tidak saya ekspektasikan dari awal. Pertama pembaca akan digiring untuk membenci Taripol kawan kecil Sobri yang membuatnya putus sekolah. Lalu akan mulai menduga hal lain. Akhirnya Andrea memberikan akhir yang benar-benar jauh dari yang saya bayangkan. Sebuah konspirasi yang belum bisa saya pecahkan. Siapakah sebenarnya Abdul Rapi itu? Apakah akan dijawab pada buku kedua trilogi ini?

Memang layak penulis asal melayu ini disebut jenius! Kisah roman yang diselipi dengan komedi-komedi membuat Sirkus Pohon menjadi tidak membosankan untuk dibaca. Namun secara garis besar tetap menitik beratkan tentang perjuangan mendapatkan sesuatu yang diimpikan masih tetap menjadi dominasi dalam novel ini.

Bagi saya, cukup sulit untuk menemukan kekurangan novel ini. Sudah siapkah kau membacanya, Boi?

Comments

Popular posts from this blog

Sebungkus Sate Kambing Pak Manto di Warmindo Jogja Pukul 12 Malam

Finding, not searching.

Dewasa dan Menolak Tua